English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Rabu, 28 Maret 2012

Ilmu bisnis dari para narasumber

M@xgnet     Conference   082331273233  Sukorejo.com Hub.kami segera!!

Ilmu bisnis dari para narasumber (Ir.
Ciputra, H. Alay, Eri Sudewo, Bob Sadino, Sandiaga Uno, Naomi Susan,
Purdie E. Chandra
)
saat acara Milad IV komunitas Tangan Di Atas (TDA) di Jakarta yang
luarbiasa tersebut hanya akan saya sajikan poin-poin pokoknya, namun
saya yakin kawan-kawan saya yang luar biasa pasti sudah bisa menangkap
maknanya.



IR. CIPUTRA:



1.
Kalau anda tidak punya “iman” atau keyakinan, anda tidak bisa sukses.

2.
TDA harus memberikan pelatihan entrepreneurship. Jangan hanya menyuruh
orang berenang tanpa mengajari cara berenang.

3. Enterpreneur bukan
dari turunan, tapi dari disiplin yang bisa dipelajari.

4. Seorang
entrepreneur bisa mengubah sampah & kotoran menjadi emas.

5. Anda
pasti bisa menjadi world class entrepreneur kalau
rajin mengikuti pelatihan. Jadilah world class
entrepreneur by design & by training
6. Jangan puas berenang di
kolam kecil, jadilah juara renang di laut lepas. Anda bisa

H. ALAY:

1. Barangsiapa
menguasai bahasa suatu kaum, ada peluang menjadi raja kaum itu.
2.
Bagi seorang entrepreneur, setiap apa pun yang terjadi, apa pun yang
ditemui, adalah peluang.
3. Tidak ada lawan bisnis. Yang ada adalah
mitra bisnis (walaupun core bisnisnya sama).
4. Berbisnislah dengan
nurani dan yakinlah pertolongan Allah.

ERI SUDEWO:

1. Kalau mau jadi world class
entrepreneur tidak perlu capek-capek melihat ke mana-mana, konsen saja
pada kualitas produk sendiri.
2. Disiplin, disiplin, disiplin. Anda
tidak bisa sukses kalau tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.

SANDIAGA UNO:

1. Just do it.
Tekun. Teliti. Belajar dari kesalahan. Tidak pernah menyerah.
2.
Memulai usaha itu tidak pernah mengenai modal. Modal itu urusan ke-5,
ke-6, ke-10.
3. Jangan takut serbuan produk China. Produk kita mampu
bersaing.
4. 12 th terakhir ekonomi Indonesia tumbuh pesat. Kalau
tidak ada sesuatu yg fatal, tahun 2010 Indonesia akan jadi 10 besar
negara ekonomi terkuat. Jumlah kalangan menengah-atas akan tumbuh pesat.
Jadi jangan berpikir membuat produk-produk murah (an) untuk menyaingi
produk China.
5. Keterbatasan- keterbatasan itu tidak ada, kitalah
yang menciptakannya di dalam kepala kita.
6. Mimpilah jadi nomor
satu, kalaupun meleset masih jadi tiga besar.
7. Perusahan-perusahaa n
besar punya ciri khas: fokus, tekun dalam bidangnya, dan mengalahkan
saingan-saingannya.
8. Kalau jadi karyawan kita tidak mungkin bisa
“membaca ke depan”. Hanya pengusaha yang bisa melakukannya.

NAOMI SUSAN:

1.
Utang/keterbatasan memiliki kekuatan: memotivasi kita segera keluar dari
masalah. So, be negative!
2. Seringkali ide bisnis baru yg luar
biasa justru jadi bumerang.
3. Harus selalu menerapkan
profesionalisme, jangan personalisme.
4. Ada yg bilang bisnis itu
susah? Mulailah dari yang mudah! Bisnis itu rumit? Lakukan bisnis yang
sederhana! Bisnis butuh modal banyak? Lakukan bisnis bermodal kecil.
Menjadi pebisnis harus berpendidikan tinggi? Orang tidak berpendidikan
pun bisa berbisnis. Berbisnis harus punya keahlian? Tidak selalu.
Pebisnis harus bekerja keras? Siapa suruh?!
5. Terkait no 4 Bu Naomi
memutar video bisnis Bu Icih, “pedagang ndheprok” sate cecek/kikil di
Pasar Baru. Sehari Bu Icih bisa menjual sate cecek 1.000 tusuk @ Rp
1.000 plus aneka kue & gorengan. Khusus ttg sate cecek, dari 1 kg
cecek seharga Rp 15.000 plus biaya bumbu dll Rp 5.000, dapat dihasilkan
100 tusuk sate cecek. Silakan hitung sendiri berapa keuntungan Bu Icih
sehari? Sebulan? Setahun? Contoh bahwa bisnis itu mudah, sederhana, bisa
dilakukan siapa saja, tidak butuh modal banyak, untungnya besar!
6.
Buat rencana bisnis. Amankan modal. Potong biaya. Dapatkan laba tunai
(non piutang). Pelihara pelanggan produktif. Tuai referral. Lakukan
iklan & promosi. Manfaatkan koneksi. Bentuk system. Bersikap
fleksibel.
7. Miracles are only for the braves.
8. Opportunity is
nowhere now, here.

BOB SADINO:

1.
Jangan sebut istilah UKM, nanti mindset-nya kecil terus. Ganti istilah
UKM dengan UBB (Usaha Bakal Besar).
2. Saya berbisnis tanpa rencana,
tanpa tujuan, tanpa kerja keras.
3. Saya mulai bisnis tanpa rencana.
Begitu mulai bisnis, merencanakan apa yang dilakukan sehari besok. Cukup
sehari ke depan.

PURDIE E.
CHANDRA
:

1. Jadi pengusaha gak harus pintar sekolahnya.
Kalo bisa IP-nya < 3. Gak lulus gak apa-apa. Orang pinter biasanya
penakut, terlalu banyak berhitung-hitung.
2. Pakai otak kanan.
Kreatif. Meloncat-loncat. Intuitif.
3. Cara paling gampang
mengembangkan otak kanan, pakai teknik 9A: action, action, action,
action, action, action, action, action, action!
4. BISNIS = Berani
Investasi Sedekah Nekad InsyaAllah Sukses.
5. BOSS = Berani Optimis
Sedekah Selamanya
6. Anak kecil bisa berjalan karena tidak takut
resiko. Jangan pernah berpikir ingin meminimalkan resiko.
7.
Berzakatlah lebih dari 2,5%. Kelebihannya merupakan “indent” untuk
rezeki berikutnya.
8. Menciptakan masa depan itu dengan pola pikir
masa depan, bukan dengan pola pikir masa sekarang, apalagi masa lalu.
9.
Harus berani utang, makin banyak makin baik, biar makin banyak yang
mendoakan usaha kita berhasil







Jurus
Orang untuk cepat Sukses dengan menggunakan Faktor Kali

Menurut buku financial Revolution karangan Tung Desem
Waringin, beliau mengatakan kalau orang kaya itu dalam mengumpulkan uang, bisa ribuan kali lebih
banyak daripada orang biasa dalam waktu yang sama, karena mereka
menggunakan Faktor kali
. Faktor kali ini dapat mendongkrak nilai
tambah kita dalam waktu seketika, sehingga kita bisa menyediakan bagi
orang yang membutuhkannya. Untuk mengetahui hebatnya faktor kali itu,
mari kita lihat bersama-sama angka-angka dasar yang bisa membuat
seseorang bisa mempunyai uang Rp. 10 Milliar :



1. Menjual sesuatu kepada seseorang dengan untung Rp. 10 Milliar.

2. Menjual kepada 10 Orang dengan untung @ Rp. 1 Milliar.

3. Menjual kepada 100 Orang dengan untung @ Rp. 100 Juta.

4. Menjual Kepada 1000 Orang dengan untung @ Rp. 10 Juta.

5. Menjual kepada 10.000 Orang dengan untung @ Rp. 1 Juta.

6. Menjual kepada 100.000 orang dengan untung @ Rp. 100 Ribu.

7. Menjual kepada 1.000.000 orang dengan untung @ Rp. 10 Ribu.

8. menjual kepada 10.000.000 orang dengan untung @ Rp. 1000.

9. Menjual kepada 100.000.000 orang dengan untung @ Rp. 100.

10. Menjual kepada 1.000.000.000 orang dengan untung @ Rp. 10.

Atau

1. Menjual kepada 1 orang dengan untung @ Rp. 1 Milliar sebanyak 10
kali.

2. Menjual kepada 10 orang dengan untung @ Rp. 100 Juta sebanyak 10
kali.

3. Menjual kepada 100 orang dengan untung @ Rp. 10 Juta sebanyak 10
kali.

4. Menjual kepada 1000 orang dengan untung @ Rp. 1 Juta sebanyak 10
kali.

5. Menjual kepada 10.000 orang dengan untung @ Rp. 100 ribu sebanyak 10
kali.

Atau

1. Menjual kepada 1.000 orang dengan untung @ Rp. 100 ribu sebanyak
100 kali.

2. Menjual kepada 10.000 orang dengan untung @ Rp. 10 ribu sebanyak 100
kali.

3. Menjual kepada 100.000 orang dengan untung @ Rp. 1.000 sebanyak 100
kali.












Penyebab-Penyebab Kegagalan dalam Berbisnis


Setiap orang tentunya tidak ingin gagal dalam semua aspek kehidupan
apalagi masalah bisnis. Tetapi, semua adalah sebuah proses menuju
keberhasilan. Kita juga harus menyadari bahwa Bisnis yang gagal adalah
sebuah kewajaran. Akan tetapi, tentunya ada factor yang menimbulkan
kegagalan tersebut. Untuk mengetahui lebih daalam apa saja faktor-faktor
kegagalan dalam berbisnis, di bawah ini kami cantumkan serangkaian
faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan dalam berbisnis:

Pertama:

“Rencana strategi yang tidak realistis”.

Kedua:

“Layanan pelanggan yang buruk”.

Ketiga:

“Marketing yang tidak memadai”.

Keempat:

“Pelatihan karyawan yang buruk”.

Kelima:

“Pengeluaran yang berlebihan”.

Keenam:

“Pencatatan keuangan yang buruk”.

Ketujuh:

“Tidak ada cadangan tunai atau modal kerja.”

Kedelapan:

“Masalah Pajak.”

Kesembilan:

“Kurangnya pengetahuan bisnis”.

Cerita sukses tak selalu bermula dari ide besar. Banyak sukses yang
justru lahir dari gagasan sepele. Ada juga yang menangguk untung besar
lantaran kelihaiannya mengadopsi dan meniru temuan orang lain. Tetapi
tak sedikit juga yang meraih sukses karena keberaniannya menanggung
risiko dan kreativitasnya dalam melakukan inovasi terhadap sesuatu yang
sudah ada.

Dalam bukunya, Emily Ross & Angus Holland mengisahkan hal ini
cukup menarik. Ia juga memilah-milah kisah sukses atas dasar sejarah dan
kecenderungannya, sehingga mempermudah pembaca untuk memahami. Sebagai
contoh adalah kisah-kisah sukses yang diaraih karena kekuatan adaptasi
modelnya. Ross & Holland menyebutkan Starbucks yang berevolusi dari
hanya sebuah toko penjual biji kopi, dan Coca Cola yang berjaya setelah
dikemas dalam botol.

Keberanian mengambil risiko oleh para kreator dan inovator juga
menjadi kisah tersendiri. Keberhasilan Apple menjadi salah satu contoh
besarnya. Sang penemu, Steve Wozniak, sempat ditolak ketika
mengajukannya ke Hewlett-Packard (HP). Ia kemudian menyodorkannya kepada
Steve Jobs yang kemudian menjadi mitranya. Dengan modal uang dari hasil
menjual mobil VW milik Wozniak dan kalkulator HP milik Jobs, mereka
membiayai desain pertama Apple saat Jobs berusia 21 tahun dan Wozniak
lima tahun lebih tua. Siapa sangka kalau kini Apple menjelma menjadi
sebuah usaha besar di dunia.

Sementara itu banyak juga sukses besar yang bermula dari gagasan
sepele. Liquid Paper adalah salah satu contohnya. Produk ini bermula
dari kebingungan sang penemunya, Bette Graham. Saat itu, seorang ibu
yang bekerja sebagai sekretaris ini kerap stres lantaran pekerjaannya
dalam mengetik. Bayangkan, bagaimana pusingnya dia ketika harus membuat
hasil ketikannya rapi dan bersih, sementara ketikannya kerap salah.

Suatu ketika tanpa sengaja dia melihat seorang tukang cat sedang
mengecat tengah mengecat. Tukang cat itu ternyata tak sengaja menodai
hasil kerjanya. Untuk membersihkannya, pengecat itu kemudian menimpa
noda itu dengan cat putih.

Dari situ, Graham terpikir untuk melakukan hal serupa. Dia mencoba
menggunakan cat tempera putih berbahan dasar air dan kuas tipis untuk
menutup kesalahan ketiknya. Ternyata berhasil. Pada tahun 1957 ketika
teman-temannya mengetahui hal ini, Graham mulai mengomersialkan, hingga
mampu menjual sekitar 100 botol per bulan. Hebatnya, 15 tahun kemudian,
perusahaan yang didirikan berhasil menjual sedikitnya lima juta botol
per tahun.

Yang tak kalah menarik adalah sukses besar yang terjadi karena
kecerdikannya dalam mengadopsi ide orang lain. Contohnya Dietrich
Mateschitz yang mengubah tonik menyehatkan asal Thailand, si kerbau air
merah alias Krating Daeng, menjadi manis dan berbuih yang cocok untuk
orang-orang Austria. Ia lantas mengemasnya lebih menarik dalam kaleng
ramping, dan memberinya merek Red Bull. Dengan klaim sebagai ‘minuman
cerdas’ yang mampu meningkatkan kinerja seseorang, Red Bull menangguk
sukses besar. Padai tahun 2006, penjualannya mencapai 3,5 miliar dolar
AS, dan kini diperkirakan jauh melebihi angka itu.

Sukses juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki kemampuan
berinovasi dan melakukan eksekusi lebih baik terhadap ide yang sudah
ada. Michael Dell adalah salah satu contohnya. Ia berhasil menembus
industri yang memuja inovasi tanpa membuat inovasi dengan tangannya
sendiri. Dia mulai membangun komputer rakitan di kamar kosnya dan
menjualnya dengan harga relatif murah melalui pos. Kini, siapa tak kenal
komputer Dell?

Langkah sama terjadi pada Sergey Brin dan Larry Page. Ia melakukan
inovasi yang serupa, sehingga Google-nya kini sukses menyaingi mesin
pencari yang lebih dulu ada, seperti Yahoo!, Alta Vista, dan Lycos.

Dalam buku ini juga diungkapkan tentang para penemu yang kurang
beruntung. Sebaliknya keuntungan justru dinikmati orang lain. Salah satu
contoh adalah Coco Chanel. Ketika parfum pada umumnya dibuat dengan
satu jenis bunga, Coco menemukan ramuan parfum yang luar biasa: hasil
perpaduan beberapa jenis bunga yang kemudian menghasilkan Chanel No. 5.
Tapi sayang, akibat kesulitan modal, Coco haus berkongsi dengan keluarga
Pierre Wertheimer, yang mempunyai infrastruktur untuk memproduksi
parfum berskala besar. Hasilnya? Keluarga Wertheimer yang justru
menikmati kekayaan, bahkan hingga cucunya yang sekarang.

Seratus jurus sukses yang diungkapkan dalam buku ini bisa menjadi
inspirasi bagi pembaca, bahwa sukses besar bisa terjadi pada siapa saja
dan dengan cara apa saja. Yang penting adalah ketekunan dan keberanian
dalam menghadapi risiko.

0 komentar:

Poskan Komentar